Artikel

Gentle Parenting Untuk Memantik Perkembangan Kreatif Anak

by Admin - Selasa, 11 Februari 2025

Gentle parenting dapat dijadikan sebagai pola asuh yang efektif dalam perkembangan anak. Gentle parenting terbagi atas tiga prinsip yaitu, respek, empati, serta memahami.Pertama, respek dapat dilakukan ketika orang tua memberikan ruang kepada anak untuk mengambil keputusannya secara mandiri. Anak akan berlatih untuk mengembangkan pemikiranlogisnya. Kedua, orang tua secara bebas dapat memperhatikan dan mendengarkan anak melakukan komunikasi dua arah. Ketiga, orang tua memiliki peran untuk memahami apa yang sedangdialami anak di kehidupan sehari-harinya. Dibandingkan berfokus pada pemberian reward dan punishment, gentle parenting berfokus pada pengembangan kesadaran dan pemahamandiri anak pada dirinya sendiri.

Gentle parenting dilakukan dengan cara tenang dan tegas. Pola parenting yang tenang dapat memberikan ruang kepada anak untuk meresponi segala konflik dilingkungan mereka.Kemampuan berpikir kreatif adalah bentuk dari suatu pemikiran  menemukan gagasan yang baru. Berpikir kreatif adalah sebuah proses, termasuk kemampuan memahami masalah, membuat tebakan dan hipotesa tentang masalah, mencari jawaban, menemukan dan mengusulkan bukti, hingga pada pelaporan hasil. Berpikir kreatif juga didefiniskan sebagai kemampuan berpikir dengan orisinalitas, penyatuan, keluwesan dan kejelasan agar bisa mendorong anak untuk berkembang melalui dukungan orang lain dan dorongan lingkungannya. Proses berpikir kreatif anak tidak akan berkembang sendiri sesuai perubahan usianya, melainkan keterampilan berpikir kreatif perlu dikembangkan secara sengaja cara mendorong potensi berpikir anak, keterampilan berpikir kreatif pada anak salah satunya dimulai dengan melatih anak untuk mandiri, kemandirian maka otak akan terstimulus berpikir dan terus mencari cara atau solusi dari setiap masalah yang dihadapinya.

Kemampuan berpikir merupakan bagian dari proses pengembangan kognitif anak. Dimana menurut Piaget perkembangan kognitif berkembang sejak anak berada pada usia 0 bulan dan akan meningkat kemampuannya di tiap fase perkembangan. Ada 4 tahapan perkembangan kognitif yaitu tahap sensorimotor, praoperasional, operasional konkrit dan operasional formal yang masing-masing tahap itu dapat mengembangkan kemampuan berpikir anak dari berpikir konkrit sampai berpikir abstrak yang akan meningkatkan kemampuan kognitif anak berpikir kritis, logis dan konkrit jika setiap fase tersebut berkembang maksimal. Pada konsep pengasuhan gentle parenting pada salah satu penelitian menunjukkan bahwa karakter anak usia dini dapat dibangun dan ditingkatkan menerapkan konsep pengasuhan positif atau gentle parenting. Anak-anak yang diasuh pendekatan ini menunjukkan perilaku yang lebih kooperatif, mampu berempati dan mampu mengelola emosi dengan baik. Hasil dari penelitian menekankan pentingnya edukasi dan dukungan kepada orang tua dalam menerapkan teknik parenting positif guna mendukung perkembangan karakter anak secara holistik.

Proses berpikir kreatif pada anak harus benar-benar ditanamkan sejak dini, dimana kemampuan anak berpikir kreatif yang optimal akan membuat anak menjadi lebih kreatif melakukan suatu hal baik proses belajar serta bermain. Anak akan memiliki ide-ide luar biasa yang unik dan imajinatif, sesuai konsep berpikir kreatif yang menekankan kepada prinsip fluency (yaitu kesigapan, kelancaran, untuk menghasilkan banyak gagasan secara cepat), flexibility (kemampuan untuk menggunakan bermacam-macam cara mengatasi masalah, kemampuan untuk memproduksi sejumlah ide, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, mampu mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu menggunakan bermacam-macam pendekatan atau memiliki cara berpikir yang luwes), originality (kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik atau asli) dan elaborasi (kemampuan untuk melakukan hal yang detail dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga menjadi lebih menarik).

Hasil dari berpikir kreatif membuat anak memiliki perkembangan aspek kognitif yang mampu memaksimalkan proses berpikir divergen. Dimana kemampuan ini merujuk pada proses satu pertanyaan berbagai macam jawaban yang mungkin ada. Oleh karena itu, cara berpikir kreatif sangat penting untuk ditumbuhkan agar perkembangan kreativitas pada anak bisa optimal. Mengekspresikan emosi dan perasaannya, anak lebih mudah mengekspresikannya kegiatan yang telah mereka kenal sejak kecil, hal ini biasanya materi yang diajarkan pada anak usia dini seperti menggambar dan menulis secara bebas akan mampu membuat anak menerapkan prinsip kreativitas berdasarkan aspek fluency, flexibility, originality dan elaborasi.

Kemampuan anak berpikir kreatif sangat di pengaruhi oleh proses pengasuhan. Pola asuh yang terlalu banyak aturan akan menghambat kemampuan berpikir kreatif pada anak. Pada gentle parenting prinsip pertama pengasuhannya yaitu orang tua memiliki sikap empati, dimana empati ini orang tua mengasuh anak akan selalu mempertimbangkan perasaan anak sebisa mungkin. Menerapkan sikap empati juga bertujuan untuk mendapatkan wawasan tentang perilaku anak dan menggunakan empati dapat memutuskan tindakan apa yang harus diambil sebagai tanggapan lebih bijak. Kuncinya adalah berpikir dulu sebelum menerapkan aturan atau memutuskan sikap kepada anak, seperti "apakah saya akan senang jika seseorang melakukan ini kepada saya?" jika jawabannya adalah "tidak", lalu mengapa melakukannya kepada anak. 

Melalui pemikiran seperti ini proses pengasuhan akan lebih fleksibel dan anak juga akhirnya memiliki ruang yang lebih luas mengeksplorasi kemampuannya, dimana semakin banyak anak diberi kesempatan mencoba hal baru, maka semakin kreatif pola pikir yang akan berkembang pada diri anak. Sikap orang tua menerima proses anak berpikir dan berperilaku akan memberi pengaruh yang besar untuk kelanjutan perkembangan kognitif anak, khususnya hal berpikir kreatif. Kebanyakan orang tua masih tidak bisa menerima sikap dan pola pikir anak, terutama ketika anak membuat sesuatu yang unik dan berbeda dari instruksi orang tua sebagian besar cenderung menyalahkan tanpa bertanya apa yang dia buat kenapa berbeda dari yang di contohkan, padahal menggali lebih informasi dari anak terhadap karya atau sesuatu yang sudah dia hasilkan merupakan bentuk apresiasi dari orang tua dan hal tersebut akan bisa membuat orang tua melihat sebuah gambaran melalui sudut pandang anak bukan hanya sudut pandang orang tua sebagai orang dewasa.

Gentle Parenting adalah pendekatan pengasuhan yang menekankan pada empati, komunikasi terbuka, dan disiplin positif. Tujuannya adalah membangun hubungan yang kuat dan sehat antara orang tua dan anak. Gentle parenting terdiri dari empat kata yaitu empati, rasa hormat, pemahaman dan batasan. Pertama, empati, empati adalah mengasuh anak mempertimbangkan perasaan anak sebisa mungkin. Menggunakan empati (atau apa yang oleh beberapa psikolog disebut 'mind-mindedness') untuk mendapatkan wawasan tentang perilaku anak dan menggunakan empati untuk memutuskan tindakan apa yang harus diambil sebagai tanggapan. Kuncinya di sini adalah berpikir "apakah saya akan senang jika seseorang melakukan ini kepada saya?" jika jawabannya adalah "tidak", lalu mengapa melakukannya kepada anak? 

Kedua, rasa hormat, hargai anak sebagaimana menghargai orang dewasa, mengapa dalam masyarakat, kurang menghargai anak-anak. Orang tua terus-menerus memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, apa yang mereka suka dan tidak suka, dan yang terburuk dari semuanya adalah perintah "diam" yang terus-menerus. Orang tua tidak benar-benar 'mendengarkan' mereka. Mengapa dia memukul anak lainnya? Mengapa dia menggigit? Mengapa dia menendang? Mengapa dia tidak mau tidur? Mengapa dia tidak mau makan? Mengapa dia tidak mau berenang hari ini? Anak-anak adalah manusia nyata, sama seperti orang tua. Jika kita ingin mereka menghargai orang tua, maka orang tua perlu menghargai mereka. 

Ketiga, pemahaman, tidak hanya bertujuan untuk memahami perilaku dan komunikasi anak-anak kita dan berkomunikasi dengan mereka menggunakan cara yang dapat mereka pahami, tetapi yang terpenting memahami apa yang normal bagi anak pada usia berapa-pun. Apakah anak benar-benar memiliki masalah tidur? Atau apakah tidak benar-benar memahami fisiologi tidur normal untuk anak seusianya? Apakah anak memiliki masalah berbagi? Atau apakah tidak benar-benar memahami keterampilan sosial normal untuk anak seusianya? Apakah anak benar-benar 'clingy', atau apakah tidak benar-benar memahami perkembangan menenangkan diri dan mengatur emosi diri sendiri?. Ini juga tentang memahami orang lain dan tidak menghakimi pilihan pengasuhan mereka, meskipun pilihan itu berbeda dari pilihan kita. 

Keempat, batasan, pengasuhan yang lembut bukanlah pengasuhan yang permisif. Anak-anak tidak selalu 'mendapatkan keinginannya sendiri', orang tua tidak selalu mengatakan 'ya', takut akan kemarahan jika mereka mengatakan 'tidak'. Bahkan, mereka sering kali bisa lebih ketat, lebih banyak batasan daripada yang lain. Saya adalah orang tua yang sangat 'ketat' dalam artian bahwa kami memiliki ‘banyak’ aturan keluarga dan banyak batasan dan batasan yang ditegakkan secara konsisten. Bagian terakhir ini penting. Tidak ada gunanya memiliki batasan jika tidak menegakkannya secara konsisten. Batasan-batasan ini memberi anak-anak rasa aman dan itu sangat penting.

Pentingnya membangun hubungan yang kuat dan positif antara orang tua dan anak sangat ditekankan oleh konsep gentle parenting. Hal ini dapat membantu anak-anak tumbuh menjadi orang yang empati, percaya diri, dan bertanggung jawab. Terdapat tiga prinsip yang diterapkan gentle parenting, yaitu respek, empati, dan memahami.

Penulis : Luthfiana (Universitas Brawijaya)

Ilustrator : Lya Dyah (SMKN 03 Blitar)

Editor : Nisa (Pranata Humas Terampil)


Sumber:

  • Teresa, A. L., & Maharani, T. K. (2024). Gentle parenting dalam meminimalisir gejala stres pada proses perkembangan anak usia 5-11 tahun. SERUMPUN: Journal of Education, Politic, and Social Humaniora, 2(2), Juli-Desember. https://husin.id/index.php/serumpun/index

  • Hardiyanti, R. (2024). Penerapan gentle parenting dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan kreatif pada anak usia dini. SOSIAL: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 25(2), 54. http://sosial.unmermadiun.ac.id/index.php/sosial.

  • Azzahra, A. C. (2024). Pola asuh model gentle parenting di era digital ekosistem kecerdasan artifisial. e-Proceeding of Management, 11(6), 6621.

  • Raihanah, Y. N., & Nuraeni, R. (2024). Analisis resepsi generasi Y terhadap penerapan gentle parenting pada akun TikTok @dhannicha. e-Proceeding of Management, 11(6), 6621.

Artikel Lainnya: