Artikel

Mengajarkan Empati pada Anak Sejak Usia Dini

by Admin - Minggu, 09 Februari 2025

Apakah penting bagi anak untuk belajar berempati sejak usia dini? Pertanyaan ini sering muncul bagi para orang tua yang ingin mengenalkan empati pada anak mereka. Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan memahami apa yang orang lain rasakan. Kemampuan ini sangat penting karena manusia adalah makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain.


Empati merupakan akar moralitas dan harus diajarkan kepada anak-anak. Tempat yang paling baik untuk mengajarkan empati adalah di keluarga. Orang tua berada pada posisi sangat tepat untuk mengajarkan empati kepada anak. Empati anak akan mengerti bahwa tidak semua keinginannya melalui orang lain dapat terpenuhi. Empati akan mampu membina hubungan anak dan diterima oleh orang lain.


Sikap empati sangat penting untuk ditanamkan pada anak, karena sikap empati dapat menjadi jalan untuk anak dalam berhubungan dengan orang lain, dalam bergaul bersama teman-teman dan dapat menjadi bekal bermasyarakat saat dewasa nanti. Selain itu sikap empati dapat merangsang sikap sosial dan emosional anak menjadi lebih sehat dan bermakna. Empati yang kuat mendorong anak bertindak benar karena ia bisa melihat kesusahan orang lain sehingga mencegahnya melakukan tindakan yang dapat melukai orang lain. Kemampuan berempati merupakan kemampuan untuk paham, tenggang rasa dan memberikan perhatian kepada orang lain.


Ada tiga pendekatan atau metode yang dapat digunakan  dalam menumbuhkan dan menanamkan empati pada anak antara lain. Pertama metode bercerita, bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan suatu pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka, yang bisa dilakukan secara lisan, atau tertulis. Bercerita dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Cerita mempunyai makna penting bagi perkembangan anak usia dini, karena bercerita guru atau orang tua dapat membantu mengembangkan nilai-nilai sosial yang didalamnya termasuk mengembangkan empati anak. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan bercerita adalah memberikan pengalaman belajar bagi anak untuk berlatih mendengarkan. 


Melalui mendengarkan anak memperoleh bermacam informasi tentang pengetahuan, nilai, dan sikap untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan bercerita juga bermanfaat untuk menggetarkan perasaan dan membangkitkan semangat anak. Cerita yang diambil adalah kisah yang dapat menumbuhkan sikap empati anak-anak terhadap tokoh penderitaan/kemalangan seseorang dalam kehidupannya. Kisah atau cerita yang berkaitan empati ini berguna untuk mengembangkan daya imajinasi moral anak. Cerita tersebut, diharapkan anak akan berimajinasi dalam pikirannya untuk selalu melakukan sikap empati kepada orang lain Anak yang mempunyai rasa empati yang sudah cukup tinggi, biasanya akan ikut terhanyut dalam cerita tersebut, dan tak jarang mereka bisa ikut sedih atau menangis. Pada saat suasana seperti ini, terjadilah tanggapan dalam diri mereka tentang konsep orang baik dan orang yang tidak baik atau jahat, serta konsep perlunya sikap empati. 


Kedua metode ceramah, metode ceramah adalah suatu cara mengajar atau penyajian materi melalui penuturan dan penerapan lisan oleh guru kepada murid dan juga merupakan penyajian informasi secara lisan baik formal maupun nonformal. Memberi penjelasan ketika ada anak yang melakukan tindakan yang tidak baik misalnya memukul teman, guru menggunakan cara bertukar posisi atau bertukar peran agar dapat membayangkan apa yang dirasakan orang lain dalam menjelaskan pada anak. Mendengar dengan empati artinya bisa mendengarkan emosi atau perasaan dari orang lain dan memberikan respon yang tepat. Jadi, guru memberikan gambaran seolah-olah yang dipukul adalah anak tersebut. Hal tersebut selalu dilakukan guru agar anak bisa memahami perasaan orang lain. 


Ketiga metode pembiasaan, metode pambiasaan merupakan kegiatan yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan untuk melatih anak agar memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang umumya berhubungan dengan pengembangan kepribadian anak seperti emosi, disiplin, budi pekerti, kemandirian, penyesuaian diri, hidup bermasyarakat, dan lain sebagainya. Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Misalnya mengajarkan anak untuk selalu mengucapkan kata ajaib, kata maaf, terima kasih, dan tolong. Memang lehihatannya biasa akan tetapi hal ini akan membawa dampak yang sangat baik bagi anak kedepannya.


Empati merupakan emosi positif yang tertuang dalam sikap sebagai bentuk dari pemahaman diri dan permahaman terhadap orang lain. Empati menekankan pentingnya merasakan perasan orang lain sebagai dasar untuk membangun hubungan sosial yang sehat, artinya ketika anak sudah memiliki sikap empati maka hal tersebut akan membawa dampak yang sangat baik untuk hubungan sosial anak kedepannya. Sikap anak yang berempati adalah sikap tanpa rekayasa, perasaan serupa pada diri seseorang merupakan sikap yang tulus lahir dalam perilakunya tanpa ada paksaan maupun kebohongan didalamnya. 


Tindakan orang yang berempati adalah ketika orang tersebut mampu memahami ketika orang lain sedih dan ikut merasakannya, berusaha menghibur orang yang bersedih, ikut bergembira ketika orang lain mendapatkan kemenangan, serta dapat menunjukan berbagai macam ekspresi ketika melihat sesuatu yang menyakitkan atau menyenangkan. Empati berperan meningkatkan sifat kemanusiaan, keadaban, dan moralitas. 


Empati merupakan emosi yang mengusik hati nurani anak ketika melihat kesusahan orang lain. Hal tersebut juga membuat anak dapat menunjukkan toleransi dan kasih sayang, memahami kebutuhan orang lain serta mau membantu orang yang sedang kesulitan. Anak yang belajar berempati akan jauh lebih pengertian dan penuh kepedulian serta biasanya lebih mampu mengendalikan kemarahan.


Menanamkan sikap empati kepada anak, hal itu akan menjauhkan anak dari rasa iri, dengki dan permusuhan kepada orang lain, sehingga anak dapat tumbuh menjadi anak yang baik hati, bijaksana dan disukai banyak teman. Selain itu sikap empati dapat merangsang sikap sosial dan emosional anak menjadi lebih sehat dan bermakna. Ketidakhadiran orangtua secara emosional juga sangat berpengaruh dalam penurunan empati anak. Orangtua yang bisa menumbuhkan empati dalam diri anaknya adalah mereka yang secara aktif terlibat dalam kehidupan dan kondisi emosional anaknya. 


Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan empati pada anak? Anak yang belajar berempati sejak kecil akan lebih mudah membangun hubungan sosial yang sehat dan saling mendukung. Oleh karena itu, mengajarkan empati pada anak tidak hanya membuat mereka menjadi pribadi yang peduli dan penuh kasih sayang, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar dengan rasa hormat dan kemampuan bekerjasama.


Mengapa Anak Perlu Belajar Empati?


Empati berperan penting dalam menciptakan hubungan sosial yang positif. Anak yang memiliki rasa empati yang kuat cenderung lebih mudah menjalin pertemanan, bekerja sama dengan orang lain, dan lebih jarang terlibat dalam tindakan agresif atau perundungan. Selain itu, empati juga membantu anak untuk memahami perasaan orang lain, yang sangat berguna saat mereka menghadapi konflik dan mendukung teman-temannya dalam situasi sulit.


Tahapan Perkembangan Empati pada Anak


Empati pada anak tidak berkembang begitu saja. Ia tumbuh seiring waktu melalui interaksi orang tua, pengasuh, dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengajarkan empati kepada anak sesuai tahap perkembangannya. Berikut adalah tahapan perkembangan empati berdasarkan usia anak:


  • Empati Emosional (Usia 1-2 Tahun)

Pada usia ini, anak mulai merasakan dan menanggapi emosi orang di sekitarnya. Misalnya, jika anak melihat seseorang menangis, mereka mungkin merasa sedih atau bahkan ikut menangis. Ini adalah bentuk awal dari empati, meskipun anak belum sepenuhnya memahami perasaan orang lain.


  • Empati Kognitif (Usia 3-5 Tahun)

Saat anak semakin besar, mereka mulai menyadari bahwa orang lain dapat merasakan hal yang berbeda atau memiliki pandangan yang berbeda. Anak mulai belajar untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain dan merespons dengan cara yang lebih tepat.


  • Empati Sosial (Usia 6 Tahun ke Atas)

Pada usia ini, anak mengembangkan empati yang lebih kompleks. Mereka mulai memahami bahwa perasaan orang lain berada dalam konteks sosial yang lebih luas, dan mereka menyadari bahwa tindakan mereka dapat mempengaruhi orang lain. Anak pada tahap ini mulai menunjukkan keinginan untuk membantu orang lain.


Sebagai orang tua, Anda berperan besar dalam mengajarkan empati pada anak. Anak-anak sering meniru perilaku orang tua mereka. Oleh karena itu, menjadi contoh yang baik menunjukkan empati dalam kehidupan sehari-hari sangat penting. Misalnya, membantu orang lain, mendengarkan mereka dengan perhatian, atau menunjukkan kasih sayang, anak-anak akan belajar untuk melakukan hal yang sama.


Sebelum anak bisa memahami perasaan orang lain, mereka perlu belajar mengenali dan mengelola perasaan mereka sendiri. Ajak anak berbicara tentang apa yang mereka rasakan, seperti "Apakah kamu merasa sedih karena mainanmu rusak?" Hal ini membantu anak lebih peka terhadap perasaan mereka sendiri, yang menjadi dasar untuk memahami perasaan orang lain.


Bermain peran bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk mengajarkan empati. Dalam permainan ini, anak belajar untuk berpura-pura menjadi karakter lain, memahami perasaan karakter tersebut, dan berpikir tentang bagaimana cara membantu mereka. Ajak anak untuk melakukan tindakan sederhana yang menunjukkan kepedulian kepada orang lain, seperti membantu teman yang kesulitan, berbagi mainan, atau memberikan pelukan kepada saudara yang sedang sedih. Tindakan ini dapat melatih mereka untuk lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.


Bantu anak untuk melihat situasi dari perspektif orang lain mengajukan pertanyaan seperti, "Bagaimana perasaanmu jika kamu berada di tempat mereka?" atau "Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka merasa lebih baik?" Cara ini akan membantu anak mengenali perasaan orang lain dan meningkatkan empati mereka.


Penulis   : Luthfiana (Universitas Brawijaya)

Ilustrator : Salsyabila (SMKN 01 Blitar)

Editor     : Nisa (Pranata Humas Terampil)


Sumber:

  • Kartika, R. (2024, Agustus 31). Mengajarkan anak untuk empati sejak dini: Kunci membentuk generasi peduli. Kumparan. Diakses pada 10 Februari 2025, dari https://kumparan.com/raynakartika/mengajarkan-anak-untuk-empati-sejak-dini-kunci-membentuk-generasi-peduli-23QW4mIcYnw/full

  • Adrian, K. (2025, Januari 2). 8 cara melatih empati anak yang bisa ditanamkan sejak dini. Alodokter. Diakses pada 9 Februari 2025, dari https://www.alodokter.com/melatih-anak-punya-empat-agar-lebih-sukses-dan-bahagia

  • Manurung, K. (2022). Memaksimalkan peran orang tua dalam menumbuhkan empati pada anak di keluarga Kristiani. Didache of Christian Education, 2(1), 31–40. Diakses dari http://ejournal.staknkupang.ac.id/ojs/index.php/dis

  • Ulfah, S., Marmawi, R., & Miranda, D. (2019). Upaya guru menumbuhkan sikap empati pada anak di TK Perintis 2 Kabupaten Kubu Raya.

  • Kumari, R., Nurhayati, S., Harmiasih, S., & Yunitasari, S. E. (2023). Menumbuhkan sikap empati pada anak usia dini melalui pembiasaan sedekah Jumat berkah di PAUD Insan Mandiri Kota Bogor. AKSARA: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 9(2). Diakses dari http://ejurnal.pps.ung.ac.id/index.php/Aksara

  • Meliana, N., Kenedi, A., & Irawan, M. N. L. (n.d.). Penerapan metode bermain peran dalam mengembangkan empati pada anak di TK Al Azhar 6 Jatimulyo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan. Tarbiyah Jurnal: Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Diakses dari http://journal.an-nur.ac.id/index.php/tarbiyahjurnal


Artikel Lainnya: