Artikel

Mencegah Speech Delayed Anak

by Admin - Selasa, 11 Februari 2025

Keterlambatan dalam berbicara pada anak adalah salah satu penyebab gangguan yang paling sering ditemukan pada perkembangan anak usia dini.  Semakin hari gangguan pada perkembangan berbicara pada anak semakin hari semakin meningkat. Gangguan bahasa dengan kosa kata ekspresif dapat terhitung kurang dari 50 kata dan atau tidak adanya kombinasi kata. Diperkirakan terdapat 15% anak yang berusia 24-29 bulan mengalami keterlambatan berbicara (speech delay).


Ada beberapa penyebab terjadinya speech delay pada anak, diantaranya yaitu kurangnya interaksi orang tua sejak anak lahir hingga masa pertumbuhan berlangsung. Pada saat masa pertumbuhan anak mengalami masa keemasan yang biasa di sebut golden age sehingga stimulasi dan rangsangan yang berada di sekitar anak akan menjadi bahan perkembangan anak. Ketika orang tua ataupun orang dewasa di sekitar anak tidak memberikan stimulasi yang baik bagi setiap aspek perkembangannya, maka akan rentan terjadi sebuah gangguan pada perkembangan anak. Anak akan mulai mengenal bahasa melalui bahasa ekspresif yaitu menangis. Baru setelahnya sesuai perkembangan, anak mulai mempelajari bahasa reseptif. Perkembangan bahasa anak normal melalui tahapan menangis, cooing, babbling, kata, dan kombinasi kata-kata.


Anak usia dini memiliki ciri khas yaitu selalu bertanya, memperhatikan dan membicarakan semua hal yang mereka lihat, dengar, dan rasakan mengenai lingkungannya secara spontan. Anak secara spontan bertanya ketika melihat, sesuatu yang menarik perhatiannya. Rasa ingin tahu dan antusias anak terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, dan dirasakan akan diungkapkan melalui kata-kata atau yang disebut berbicara. Anak yang memiliki kemampuan berbicara telah menunjukkan kematangan dan kesiapan dalam belajar, karena berbicara anak akan mengungkapkan keinginan, minat, perasaan, dan menyampaikan pemikirannya secara lisan kepada orang di sekelilingnya.


Anak dikatakan terlambat berbicara, jika pada usia kemampuan produksi suara dan

berkomunikasi di bawah rata-rata anak seusianya. Pada hakikatnya, aspek berbicara merupakan salah satu aspek perkembangan seorang anak yang dimulai sejak lahir. Kemampuan anak untuk berkomunikasi dimulai reaksinya terhadap bunyi atau suara ibu bapaknya, bahkan di usia 2 bulan anak sudah menunjukkan senyum sosial pada semua orang yang berinteraksi dengannya. Diusia 18 bulan anak sudah mampu memahami dan mengeluarkan sekitar 20 kosa kata yang bermakna. Sedangkan di usia 2 tahun sudah mampu mengucapkan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata, misalnya “mama pergi”, “aku pipis”. Jika anak tidak mengalami hal tersebut bisa dikategorikan anak tersebut mengalami keterlambatan berbicara (speech delayed).


Beberapa penyebab anak mengalami gangguan perkembangan bahasa khususnya dalam aspek bicara meliputi: Anak mengalami disatria, gerak lidah terbatas, kecerdasan yang rendah, kecenderungan n ekspresi panik dan ketakutan, sulit mengungkapkan keinginan melalui kata-kata, meski orang lain tidak mengerti tapi anak tetap berusaha menggunakan gerakan agar orang lain mengerti. Dikarenakan kemampuan komunikasi yang kurang anak akan kurang diterima dalam kelompok sosial.


Tabel 1. Ciri Yang Perlu Diwaspadai Untuk Melakukan Evaluasi Bahasa Segera:

Usia

Reseptif

Ekspresif

12 Bulan

-

Tidak bersuara, menunjuk, atau melakukan bahasa tubuh

15 Bulan

Tidak melihat atau menunjukkan 5 sampai 10 objek atau orang yang disebutkan oleh orang tua

Tidak menyebutkan minimal 3 kata

18 Bulan

Tidak mengikuti satu perintah

Tidak mengatakan “mama” “dada” aau nama lainnya

2 Tahun

Tidak menunjuk gambar atau bagian tubuh ketika disebutkan

Tidak menggunakan minimal 25 kata

2,5 Tahun

Tidak merespon secara verbal atau mengangguk atau menggeleng ketika ditanya

Tidak menggunakan frasa dua kata

3 Tahun

Tidak mengerti kata keterangan waktu atau tempat dan tidak menikuti perintah dua kegiatan

Tidak menggunkana minimal 200 kata, tidak meminta sesuatu dengan menyebutkan namanya, dan mengeulangi kata sebagai respons sebuah pertanyaan

Usia Kapanpun

-

Memiliki kemunduruan dalam tahapan milistone  bahasa

Sumber: McLaughlin, Maura R., Speech and Language Delay in Children, American Family Physican, volume 83, number 10.


Anak dapat dikatakan berada pada perkembangan bicara yang berada di bawah kemampuan bicara anak seusianya, dilihat dari artikulasi dan ketepatan penggunaan kata. Selain itu, anak lebih senang menggunakan bahasa isyarat seperti bahasa bayi sehingga orang lain yang bukan merupakan keluarga inti akan kesulitan memahami isyarat yang ditunjukkan anak. Kondisi ini terjadi karena berkaitan kondisi anak kesulitan menyampaikan ekspresi melalui kata-kata. Anak sulit mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata sehingga kemudian membiasakan untuk menggunakan isyarat non verbal. Berbagai isyarat anak keterlambatan bicara adalah sering menunjukkan respon seperti perubahan mimik wajah, gerakan motoric, maupun sentuhan. Selain itu anak juga sering hanya mengeluarkan suara yang tidak mudah dikenali oleh semua orang. 


Keterikatan (bonding) orang tua anak sebagai lini pertama role model di rumah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan bicara anak, serta apapun yang anak ingin ungkapkan. Anak yang mengalami keterlambatan bicara tidak memiliki motivasi yang kuat untuk berbicara dibandingkan anak normal, kondisi ini berlangsung pada usia 2 tahun awal kehidupan. Tanda ini sering diabaikan oleh orang tua, karena anak dianggap lucu apabila hanya tersenyum dan tertawa tanpa mengeluarkan kata-kata.


Selanjutnya, penyebab keterlambatan bicara adalah kesempatan yang kurang dimiliki oleh anak untuk berbicara. Periode ini berkaitan tentang kesempatan mengeksplorasi keinginan dan perasaan, serta kesempatan mendapatkan reinforcement oleh role model di rumah. Hal ini terjadi apabila anak dalam kesehariannya dalam kondisi krisis, seperti orang tua jam kerja tinggi, kakak yang kurang memberikan perhatian, atau anak tinggal dengan pengasuh tanpa ada stimulus. Perkembangan bahasa anak merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan oleh setiap orang tua, karena perkembangan bahasa tidak terjadi dengan sendirinya berkembang secara natural, tetapi membutuhkan stimulasi dari orang sekitar termasuk orang tua. Keterlambatan bicara pada anak dapat mempengaruhi motorik anak maupun sensoriknya. Selain itu, kemampuan dalam berkomunikasi juga akan terhambat dan menyebabkan interaksi anak berkurang, sehingga prestasi anak juga akan terpengaruh. 


Terdapat tiga strategi untuk membantu anak memperoleh bahasa. (1) Mengulangi maksud perkataan anak, misal ketika anak mengucapkan, ‘anjingnya menggonggong,’ maka orang tua dapat meresponnya berkata, ‘kapan anjingnya menggonggong?’ hal ini dapat meningkatkan ketertarikan anak untuk mengucapkan kata-kata. (2) Memanjangkan kata yang diucapkan anak, misal saat anak berkata, ‘anjing makan,’ maka orang tua dapat membalasnya mengucapkan, ‘iya, anjing sedang makan.’ Hal ini membantu anak memahami penyusunan kalimat yang benar seperti apa. (3) Memberikan nama pada objek, meminta anak menyebutkan nama benda yang dilihatnya sehingga dapat meningkatkan jumlah penguasaan kata yang dimiliki oleh anak. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menstimulasi dan meningkatkan kemampuan berbicara anak secara alami dan menyenangkan:


1. Ajak Anak Berbicara Setiap Hari

Jangan ragu untuk sering mengajak anak berbicara, meskipun mereka belum bisa menjawab jelas. Gunakan bahasa yang sederhana namun jelas, misalnya menjelaskan apa yang sedang Anda lakukan.  “Mama lagi buat susu, ya. Susunya hangat dan enak. Kamu mau minum sekarang?” Melalui cara tersebut anak akan terbiasa mendengar kata-kata baru dan memahami cara menggunakannya. Percakapan kecil ini sangat membantu dalam memperkaya kosakata mereka.  


2. Membacakan Buku Cerita

Membacakan buku bukan hanya sekadar aktivitas sebelum tidur, tetapi juga cara efektif untuk merangsang kemampuan berbahasa anak. Pilih buku gambar menarik dan cerita sederhana agar anak lebih mudah memahami. Setelah membaca, cobalah ajak anak berdiskusi.   “Si kelinci tadi lari ke mana ya? Kenapa dia takut?”Pertanyaan simple seperti ini akan mendorong anak berpikir dan berbicara lebih banyak.  Membacakan buku kepada anak dapat menjadi salah satu stimulus. Anak yang dibacakan buku dan semakin sering dilakukan, akan semakin baik pula kemampuan literasi serta bahasanya. Pembacaan buku cerita menguntungkan anak ketika orang tua menjelaskan arti kalimat anak dan mendorong anak untuk bertanya dan menjawab pertanyaan juga secara positif meningkatkan kemampuan kognitif anak


3. Bermain Sambil Belajar Bicara

Belajar berbicara tidak harus terasa seperti "belajar." Buatlah aktivitas menyenangkan yang disukai buah hati Anda sehingga anak lebih aktif tanpa tekanan. Bernyanyi bersama lagu anak-anak, bermain tebak gambar atau tebak suara,bermain peran boneka atau mainan favorit .


4. Jadi Contoh yang Baik

Anak memiliki memori yang baik, sehingga mereka meniru sesuatu tanpa filter. Anak akan menyerap dan meniru cara Anda berbicara. Oleh karena itu, usahakan untuk selalu berbicara jelas dan menghindari penggunaan "bahasa bayi" yang kurang tepat. Misalnya, daripada mengatakan "mamam," lebih baik katakan "makan". Semakin sering mereka mendengar pengucapan yang benar, semakin mudah mereka menirunya.  


5. Ciptakan Lingkungan yang Mendukung

Berikan anak kesempatan untuk berinteraksi banyak orang, seperti anggota keluarga, teman sebaya, atau tetangga. Selain itu, batasi penggunaan gadget dan televisi agar mereka lebih banyak berkomunikasi secara langsung. Interaksi langsung lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berbicara dibandingkan sekadar mendengar suara dari layar.  


Penulis : Luthfiana (Universitas Brawijaya)

Ilustrator : Lya Dyah (SMKN 03 Blitar)

Editor : Nisa (Pranata Humas Terampil)


Sumber:

  • Rahmah, F., Kotrunnada, S. A., Purwati, & Mulyadi, S. (2023). Penanganan speech delay pada anak usia dini melalui terapi wicara. Aṣ-Ṣibyān: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8(1), 99-110. https://doi.org/[jika ada DOI]

  • Istiqlal, A. N. (2021). Gangguan keterlambatan berbicara (speech delay) pada anak usia 6 tahun. PRESCHOOL, 2(2), 207.

  • Angraeni, R., Irawan, B., & Maulana, A. (2024). Faktor dan cara mengatasi speech delay terhadap pemerolehan bahasa anak. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 10(1), 773. https://e-journal.my.id/onoma

  • Maulia, W. P., Ningsih, S. W., & Aji, D. R. (2024). Analisis pemerolehan bahasa terhadap perkembangan bahasa anak usia 8 tahun. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5(1), 570.

  • Maharani &  Abidin (2022). Studi eksploratif tentang faktor-faktor penyebab keterlambatan bicara anak usia pra sekolah. PSYCHE: Jurnal Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung, 4(1). http://journal.uml.ac.id/TIT

  • Tim Penulis. (2022, 16 November). 8 cara agar anak cepat bicara di usia 1-3 tahun. Nutriclub. Diakses pada 10 Februari 2025 dari https://www.nutriclub.co.id/artikel/tumbuh-kembang/1-tahun/cara-agar-anak-cepat-bicara.

  • Airindya, B. (2023, 6 Mei). Penyebab anak terlambat bicara dan cara mengatasinya. Alodokter. Diakses pada 10 Februari 2025 dari https://www.alodokter.com/ketika-anak-terlambat-bicara.

  • Oktifa, N. (2023). Tips supaya anak gemar membaca: Cara mengajarkan anak suka membaca. Aku Pintar. Diakses pada 10 Februari 2025 dari https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/tips-supaya-anak-gemar-membaca


Artikel Lainnya: